Lelaki Dipinggir Jendela

18 Apr

Kelap malam, ayunan lagu yang menari-nari dan lampu yang berlari-lari,ya.. pemandangan yang tidak luput dari kedipan   kedua bola mataku. Malam berbisik kepadaku untuk segera menyudahi keseharianku ini, apakah ini yang di maksud petunju-NYA ? apakah ini yang di maksud hidayah-NYA? entahlah, semua itu adalah batinku yang terbelengu akan gelap nya hidupku. Hari-hari ku yang selalu di penuhi dengan sindiran orang-orang, di sebuah pagi aku mulai dengan olahraga, lalu aku bersihkan keringat kering dengan mandi, lalu aku pergi melangkah untuk berbelanja lalu apa yang terjadi? baru seperempat perjalanan aku sudah mendengar hembusan kalimat tajam yang mensuk ku dari belakang, aku mencoba sabar dan terus bersabar. Aku mencoba seperti almarhumah ibu ku, ibu yang membuatku menjadi wanita yang kuat, dan kini senyuman nya yang membuat ku bersemangat tiada lagi semenjak ayahku meninggalkan kami berdua dengan perempuan lain, semenjak itu ibu menjadi sakit-sakitan  aku bingung harus berbuat apa mengingat usiaku masih 7 tahun, yang hanya biasa aku lakukan hanyalah berkeliling meminta keikhlasan orang-orang yang tidak aku kenal.

Di saat aku kembali dengan sebungkus nasi telur dari hasil aku berkeliling, ibu terliat sudah menunggu ku lama di depan pintu rumah atau bisa di bilang gubuk karena rumah kita sebagian besar terbuat dari kardus. Aku memberikan nasi bungkus itu kepada ibuku, namun ibu mengembalikan nya sambil berkata ” Kau saja yang makan nak, ibu sudah kenyang, ibu sudah sangat senang melihat engkau makan lalu kenyang. Jadilah wanita yang cantik, wanita yang menjunjung  agama, dan tentu saja kuat”. Aku menangis mendengar kalimat itu aku sangat sayang kepada ibuku yang telah membesarkan ku, yang telah menghidupi ku tanpa lindungan dari sosok seorang ayah. Lalu di suatu malam dengan tetesan air hujan yang sangat deras aku terbangun karena mendengar ibu batuk keras hingga berulang kali, saat aku menghampiri nya tiba tiba ibu jatuh pingsan dengan ceceran darah dari mulut nya, aku panik, aku berteriak minta tolong, aku berlari keluar rumah  kesana kesini mencari bantuan dengan pakaianku yang sudah basah kuyub terkena air hujan, tapi percuma saja.. tiada orang yang mau menolong, lalu aku kembali ke rumah dan menghampiri ibu, ternyata… malaikat maut telah mencabut nyawa ibu ku, aku tak henti henti nya menangis, hingga tetangga mendengar hisak jerit tangisku dan lalu membantu mengurus ibu ku. Keesokan harinya aku masih tetap saja menangis melihat ibu ku yang telah  berada di tempat yang lebih baik, hingga seorang perempuan tua menghampiriku yang menenangkan ku dengan kata kata indah nya ” Berhentilah menangis agar ibumu bahagia melihat mu yang juga bahagia di sini” aku pun berhenti menangis dan lalu perempuan tua itu “Ikut lah kepadaku, aku akan merawatmu dengan kasih sayang seorang ibu”. Semenjak itu aku berfikir apakah ini keadilan-NYA ? apakah ini kebesaran-NYA?. Semenjak ini lah kehidupan gelapku di mulai (to be continue)

 

Leave a Reply or Message

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: